Setelah lama dalam penantian akhirnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo akhirnya terpilih menjadi
gubernur Bank Indonesia untuk periode 2013-2018, menggantikan Darmin
Nasution yang akan mengakhiri masa jabatannya sebagai orang nomor satu
di bank sentral Indonesia pada 22 Mei mendatang.
walau sulit akhirnya Agus untuk menjadi gubernur BI.
Sebab, lima tahun sebelumnya, tepatnya 2008, dirinya pernah diusulkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi gubernur BI bersama Raden
Pardede. Namun, kala itu Dewan Perwakilan Rakyat menolak.
Agus Martowardojo, Selasa malam, 26 Maret 2013, akhirnya dinyatakan lulus mengikuti uji kepatutan dan kelayakan yang digelar anggota Komisi XI DPR. Padahal, rapat dilaksanakan sejak siang, tepatnya pukul 13.00 WIB.
Awalnya sangat alot, keputusan keluar setelah 54 anggota
Komisi XI DPR menggelar voting dalam rapat tertutup. Komisi IX
merupakan komisi yang memiliki ruang lingkup keuangan, perencanaan
pembangunan nasional, perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank.
Dalam voting ini, yang setuju Agus Marto menjadi gubernur BI
tercatat sebanyak 46 orang dan yang tidak setuju tujuh orang, sedangkan
abstain satu orang. Dengan demikian, Agus Marto terpilih sebagai
gubernur BI.
Proses Yang Alot
Alotnya dalam penentuan nasib Agus Marto sebagai calon tunggal gubernur
BI memang sudah dirasakan sejak awal dimulai rapat. Awalnya, mayoritas fraksi
di Komisi XI sempat mengisyaratkan keputusan akan dilakukan secara
aklamasi.
Setelah berlangsung, beberapa fraksi seperti Partai Golkar dan PDI
Perjuangan meminta keputusan untuk menentukan calon gubernur BI diundur.
Pertimbangan mereka, ada partai yang tengah disibukkan dengan agenda
organisasinya, seperti akan melangsungkan kongres luar biasa.
Ditambah lagi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak memberikan
informasi latar belakang Agus Marto dan sejauh mana keterlibatannya
dalam kasus Hambalang.
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera bahkan menyatakan menolak
pencalonan Agus sebagai gubernur BI. Sebab, dinilai pencalonannya tidak
tepat dilaksanakan saat ini. Jika Agus menjadi orang nomor satu di BI,
pemerintah harus menunjuk Menkeu yang baru.
Selain itu, pergantian Menkeu saat situasi ekonomi global tidak
menentu seperti saat ini, ditambah kondisi politik di Indonesia agak
memanas menjelang Pemilu
2014, dapat berdampak negatif bagi pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di Indonesia.
"Untuk itu, Fraksi PKS DPR merekomendasikan Saudara Agus
Martowardojo untuk tetap menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai Menteri
Keuangan hingga 2014,” kata anggota Komisi XI Bidang Keuangan dan
Perbankan DPR dari Fraksi PKS, Ecky Awal Mucharam.
Sedikit Tentang Agus
Agus Martowardojo sudah lama berkecimpung di pasar keuangan
Indonesia. Saat ini, ia menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri
Mulyani Indrawati pada Mei 2010.
Sebelum menjadi Menkeu, Agus adalah Direktur Utama PT Bank Mandiri
Tbk (Mei 2005-2010), menggantikan ECW Neloe, yang terlibat dugaan kasus
korupsi.
Ia yang bernama lengkap Agus Dermawan Wintarto Martowardojo lahir di Amsterdam, Belanda, 24 Januari 1956 silam.
Di usianya yang sudah 57 tahun, karier Agus memang beragam, tetapi
masih di sektor yang sama, yaitu pasar keuangan. Ia menempuh pendidikan
sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan lulus pada 1984.
Selepas itu, Agus juga menyelesaikan kursus perbankan, manajemen,
dan kepemimpinan di banyak institusi dalam dan luar negeri, antara lain
Banking and Management Courses State University of New York, Stanford
University, dan Institute of Bangking & Finance, Singapura.
Karier perbankannya dimulai sebagai staf International Loan di Bank
of America cabang Jakarta, lalu menjabat sebagai Wakil Presiden
Corporate Banking Banking Group Head Bank Niaga pada 1986.
Kariernya tidak berhenti di situ karena ia semakin melejit, yaitu
menjadi Presiden Direktur PT Bank Bumiputera (1995) dan Presiden
Direktur PT Bank Ekspor Impor Indonesia (1998).
Karena gonjang-ganjing reformasi dan krisis global, ada empat bank
yang dilebur menjadi satu, yaitu menjadi Bank Mandiri. Kredibilitas Agus
dipertaruhkan untuk membenahi peleburan empat bank tersebut. Ia
bertugas menjadi Direktur Bank Mandiri dengan tanggung jawab manajemen
risiko dan restrukturisasi kredit, retail banking dan operations, hingga
memegang bagian sumber daya manusia pada 1999-2002.
Setelah sempat menjabat sebagai penasihat Ketua BPPN (Badan
Penyehatan Perbankan Indonesia) pada Oktober 2002, ia diangkat menjadi
Presiden Direktur PT Bank Permata Tbk yang merupakan hasil merger PT
Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Ekspres, Bank Media,
dan Bank Patriot.
Kemampuannya merestrukturisasi bank membuatnya dipercaya kembali ke
Bank Mandiri menjadi Direktur Utama pada Mei 2005. Namun, pada Mei
2010, Presiden meminta Agus menggantikan Sri Mulyani untuk menjadi
Menteri Keuangan.
Agus pun sempat terpilih sebagai Ketua Asosiasi Bankir Indonesia
pada Desember 2005 dan telah menjabat sebagai Ketua Himpunan Bank Milik
Negara (Himbara) sejak Juni 2006.
Ia juga pernah menjadi Advisor Asosiasi Perbankan Indonesia dan
pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Bank Umum Nasional Swasta
(Perbanas) dari tahun 2003 sampai Mei 2006. Selain itu juga, Agus pernah
menjadi Ketua Bankers Club Indonesia dari 2000 sampai 2003.
Rekomendasi DPR
Sementara itu, untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai
gubernur Bank Indonesia yang baru, Komisi XI DPR merokemendasikan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Terkait fungsi dan tugas BI dalam hal pengendalian inflasi, BI
harus fokus pengendalian target inflasi melalui penguatan fungsi TPI dan
TPID serta menjaga kestabilan nilai tukar.
2. Gubernur BI terpilih harus dapat menjaga kekompakan dan
keharmonisan lingkungan BI agar terjalin hubungan kerja sama yang baik
dan Keputusan Dewan Gubernur yang bersifat kolektif dan kolegial.
3. Terkait Laporan telaah Badan Akuntabilitas Keuangan Negara
(BAKN) mengenai proyek tahun jamak Hambalang, gubernur BI terpilih harus
menepati janjinya yang disampaikan dalam fit and proper test di Komisi XI pada tanggal 25 Maret 2013 untuk mengundurkan diri jika dirinta ditetapkan menjadi tersangka.
4. Dalam rangka mendorong perkembangan perbankan syariah di
Indonesia dan mensejajarkan perbankan syariah nasional dengan
negara-negara lain, BI harus terus berupaya mendorong akselerasi
pertumbuhan perbankan syariah mengingat besarnya potensi pasar perbankan
syariah di Indonesia yang mayoritas penduduknya agama Islam.
5. Kebijakan makroprudensial yang dijalankan oleh BI harus berpihak
kepada kepentingan petani, nelayan, usaha mikro kecil menengah, sektor
rill, dan kepentingan ekonomi nasional.
6. Dalam hal mewujudkan ketahanan pangan nasional, BI harus terus
mendorong peningkatan dan memprioritaskan alokasi kredit kepada sektor
pertanian rakyat serta berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan.
7. BI harus melaksanakan asas resiprokal Perbankan Nasional dengan
langkah-langkah pembuatan Memorandum of Understanding (MoU) dengan
pimpinan bank asing yang beroperasi di Indonesia dan pimpinan bank
sentral asing tersebut berasal.
8. Kebijakan makroprudensial yang dijalankan oleh BI harus mampu mewujudkan kebijakan makroprudensial yang mampu menciptakan financial inclusion dan menyeluruh keseluruh rakyat Indonesia sampai ke pelosok.
9. Mengoptimalkan upaya menarik devisa hasil ekspor untuk masuk
keperbankan dalam negeri melalui optimalisasi kebijakan devisa hasil
ekspor maupun instrumen kebijakan lainnya sehingga berdampak positif
terhadap perekonomian nasional.
10. Dalam hal menilai kinerja dewan gubernur, terhitung tahun 2014,
BI harus memiliki dan menetapkan indikator Kinerja Utama (IKu) untuk
masing-masing anggota dewan gubernur dengan desain struktur BI yang
lebih efisien dan efektif.
11. Kebijakan lalu lintas devisa yang dijalankan oleh BI harus
lebih mengutamakan kepentingan nasional dan memberikan pembatasan kepada
arus modal asing yang bersifat jangka pendek, spekulatif, dan
fluktuatif.
12. Gubernur BI terpilih harus mendorong agar sistem pembayaran nasional semakin efisien, nyaman dan aman.
13. Gubernur BI terpilih harus mendorong agar sistem pembayaran
nasional semakin efisien, nyaman dan aman. Gubernur BI terpilih harus
terus memelihara stability macroprudential dan terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
No comments:
Post a Comment